Oleh: ybaby | November 23, 2008

Gerimis Senja

 

Gerimis senja turun berderai di luar jendelaku, mempertajam sunyi yang terpaksa kutanggung sepeninggalmu. Dalam nelangsa aku bertanya-tanya, adakah gerimis pun turun di kotamu yang jauh? Adakah kau mengingatku dengan kepedihan yang sama seperti caraku mengenangmu?

Gerimis adalah saksi bisu bagi hatiku yang pilu. Mendambamu tanpa batas waktu. Oh, tentu saja orang bilang waktu akan menyembuhkan segala luka… tapi lihat saja: nyatanya itu tak berlaku untukku. Sebab aku masih saja perih, masih saja merindumu… meski gugusan waktu yang berlalu telah apak menua dalam gulungan tebal kalender tanpa gambar.

Sesekali saat rasa sakit karena menyadari ketiadaanmu di sisiku mencengkeramku dengan kukunya yang keji, aku menyalahkanmu untuk segala nelangsa ini.

Kau bersalah, sayangku…

Kau sungguh bersalah karena pernah mengakui perasaanmu padaku…

Tapi aku tentu pun punya andil.

Senja itu… saat musim begitu manis dan bau melati memenuhi udara di kamarku… entah bagaimana aku merasa mampu membaca hatimu dan berharap aku tak keliru. 

Bayang-bayang kenangan menggodaku… menggodamu… hingga aku tak kuasa menahan diri dari kekejian yang kini kusesali: mengail bayang-bayang yang bergerak gelisah dalam kolam hatimu yang dalam… sambil berharap aku tak salah membaca isyarat….

Satu yang kulupa adalah: kita tak lagi punya hak untuk saling mengingini.

Waktu yang berlalu dalam kejauhan kita yang selalu terasa seperti siksaan bagi hatiku yang merindu, bukan cuma membuat kita menua, tapi juga memasukkan orang-orang lain dalam hidup kita.

Kelahiran anak-anakmu yang susul-menyusul membuatku mengerti bahwa semestinya aku berhenti bermimpi, lalu menerima uluran tulus dari lelaki yang kini memberiku beberapa buah hati.

Aku berdusta kalau kubilang aku sepenuhnya tak bahagia bersamanya, sayangku… tapi aku juga berdusta kalau kubilang aku sungguh-sungguh sudah sepenuhnya mampu melupakanmu.

Kau masih ada di sudut hatiku… meniupkan gairah dan kesedihan dengan kesepadanan yang mungkin tak masuk akal bagi mereka yang tak pernah mengalami sendiri….

Kau selalu ada, kau selalu berarti.

Kenangan tentangmu menghangatkan mimpi-mimpiku yang paling tersembunyi, lalu saat terjaga kudapati hatiku mengigil dalam dinginnya amarah yang hanya mungkin lahir dari rasa cinta sedalam samudra yang tak pernah diizinkan mendeburkan ombak gairahnya.

Gerimis terus berderai di luar jendelaku, mempertajam sunyi yang terpaksa kutanggung sepeninggalmu. Malam tiba diam-diam, seolah tak ingin meluruhkan kenangan.

Kau dan segalamu yang semata indah bagi mataku… apakah anugerah, atau justru kutukan tak berujung?

 


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.